KIMIA UNTUK PEMANFAATAN ENERGI MATAHARI
Sel
surya adalah perangkat yang mampu mengkonversi langsung cahaya matahari menjadi
listrik. Sel surya bisa disebut sebagai pemeran utama untuk memaksimalkan
potensi sangat besar energi cahaya matahari yang sampai kebumi. Sel surya saat
disinari dengan cahaya matahari dapat menghasilkan tegangan. Ketika disinari, tegangan
dan arus yang dihasilkan tidak cukup untuk berbagai aplikasi, sehingga umumnya
sejumlah sel surya disusun secara seri membentuk panel surya. Satu panel surya
biasanya terdiri dari 28-36 sel surya. Panel surya tersebut bisa digabungkan
secara paralel atau seri untuk memperbesar total tegangan dan arus outputnya
sesuai dengan daya yang dibutuhkan untuk aplikasi tertentu.
Sesuai
dengan perkembangan sains dan teknologi, jenis-jenis teknologi sel surya pun
berkembang dengan berbagai inovasi. Ada yang disebut sel surya generasi satu,
dua, tiga dan empat, dengan struktur atau bagian-bagian penyusun sel yang
berbeda.
Struktur Sel Surya
Struktur dari sel surya komersial yang menggunakan material
silikon sebagai semikonduktor. (Gambar:HowStuffWorks)
Gambar
disamping menunjukan ilustrasi sel surya dan juga bagian-bagiannya. Secara
umum terdiri dari:
1. Substrat/Metal backing
Substrat
adalah material penopang seluruh komponen sel surya, mempunyai konduktifitas
listrik yang baik karena juga berfungsi sebagai kontak terminal positif sel
surya, sehinga umumnya digunakan material metal atau logam seperti aluminium.
Untuk sel surya dye-sensitized (DSSC) dan sel surya organik,
substrat juga berfungsi sebagai tempat masuknya cahaya sehingga material yang
digunakan yaitu material yang konduktif tapi juga transparan seperti indium tin
oxide (ITO) dan flourine doped tin oxide (FTO).
2. Material semikonduktor
Material
semikonduktor merupakan bagian inti dari sel surya yang biasanya mempunyai
tebal sampai beberapa ratus mikrometer untuk sel surya generasi pertama
(silikon), dan 1-3 mikrometer untuk sel surya lapisan tipis. Material semikonduktor
ini yang berfungsi menyerap cahaya dari sinar matahari. Untuk kasus gambar
diatas, semikonduktor yang digunakan adalah material silikon, yang umum
diaplikasikan di industri elektronik. Sedangkan untuk sel surya lapisan tipis,
material semikonduktor yang umum digunakan dan telah masuk pasaran yaitu
contohnya material Cu(In,Ga)(S,Se)2 (CIGS), CdTe (kadmium
telluride), dan amorphous silikon, disamping material-material semikonduktor
potensial lain yang dalam sedang dalam penelitian intensif seperti Cu2ZnSn(S,Se)4 (CZTS)
dan Cu2O (copper oxide).
Bagian
semikonduktor tersebut terdiri dari junction atau gabungan dari dua material
semikonduktor yaitu semikonduktor tipe-p (material-material yang disebutkan
diatas) dan tipe-n (silikon tipe-n, CdS,dll). Pengertian semikonduktor
tipe-p, tipe-n, dan juga prinsip p-n junction dan sel surya akan dibahas
dibagian “cara kerja sel surya”.
3. Kontak metal / contact grid
Selain
substrat sebagai kontak positif, diatas sebagian material semikonduktor
biasanya dilapiskan material metal atau material konduktif transparan sebagai
kontak negatif.
4.Lapisan antireflektif
Refleksi
cahaya harus diminimalisir agar mengoptimalkan cahaya yang terserap oleh
semikonduktor. Oleh karena itu biasanya sel surya dilapisi oleh lapisan anti-refleksi.
Material anti-refleksi ini adalah lapisan tipis material dengan besar indeks
refraktif optik antara semikonduktor dan udara yang menyebabkan cahaya
dibelokkan ke arah semikonduktor sehingga meminimumkan cahaya yang dipantulkan
kembali.
5.Enkapsulasi / cover glass
Bagian
ini berfungsi sebagai enkapsulasi untuk melindungi modul surya dari hujan atau
kotoran.
Cara kerja sel surya
Sel surya konvensional
bekerja menggunakan prinsip p-n junction, yaitu junction antara semikonduktor
tipe-p dan tipe-n. Semikonduktor ini terdiri dari ikatan-ikatan atom yang
dimana terdapat elektron sebagai penyusun dasar. Semikonduktor tipe-n
mempunyai kelebihan elektron (muatan negatif) sedangkan semikonduktor
tipe-p mempunyai kelebihan hole (muatan positif) dalam struktur atomnya.
Kondisi kelebihan elektron dan hole tersebut bisa terjadi dengan
mendoping material dengan atom dopant. Sebagai contoh untuk mendapatkan
material silikon tipe-p, silikon didoping oleh atom boron, sedangkan untuk
mendapatkan material silikon tipe-n, silikon didoping oleh atom fosfor.
Ilustrasi dibawah menggambarkan junction semikonduktor tipe-p dan tipe-n.
Junction antara semikonduktor tipe-p
(kelebihan hole) dan tipe-n (kelebihan elektron). (Gambar : eere.energy.gov)
Peran dari p-n junction
ini adalah untuk membentuk medan listrik sehingga elektron (dan hole) bisa
diekstrak oleh material kontak untuk menghasilkan listrik. Ketika semikonduktor
tipe-p dan tipe-n terkontak, maka kelebihan elektron akan bergerak dari
semikonduktor tipe-n ke tipe-p sehingga membentuk kutub positif pada
semikonduktor tipe-n, dan sebaliknya kutub negatif pada semikonduktor
tipe-p. Akibat aliran elektron dan hole ini maka terbentuk medan listrik yang
mana ketika cahaya matahari mengenai susuna p-n junction ini maka akan
mendorong elektron bergerak dari semikonduktor menuju kontak negatif, yang
selanjutnya dimanfaatkan sebagai listrik, dan sebaliknya hole bergerak menuju
kontak positif menunggu elektron datang, seperti diilustrasikan pada gambar
dibawah.
Ilustrasi cara kerja sel surya dengan
prinsip p-n junction. (Gambar : sun-nrg.org)
Jenis-jenis sel
surya
Jenis-jenis
sel surya digolongkan berdasarkan teknologi pembuatannya. Secara garis besar
sel surya dibagi dalam tiga jenis, yaitu:
1. Monocrystalline
Jenis ini terbuat dari batangan
kristal silikon murni yang diiris tipis-tipis. Pengirisan kristal silikon murni
membutuhkan teknologi khusus untuk mengirisnya menjadi kepingan-kepingan
kristal silikon yang tipis.
Dengan teknologi seperti ini, akan dihasilkan kepingan sel surya yang identik satu sama lain dan berkinerja tinggi. Sehingga menjadi sel surya yang paling efisien dibandingkan jenis sel surya lainnya, sekitar 15% - 20%.
Mahalnya harga kristal silikon murni dan teknologi yang digunakan, menyebabkan mahalnya harga jenis sel surya ini dibandingkan jenis sel surya yang lain di pasaran
Kelemahannya, sel surya jenis ini jika disusun membentuk solar modul (panel surya) akan menyisakan banyak ruangan yang kosong karena sel surya seperti ini umumnya berbentuk segi enam atau bulat, tergantung dari bentuk batangan kristal silikonnya, seperti terlihat pada gambar berikut.
Dengan teknologi seperti ini, akan dihasilkan kepingan sel surya yang identik satu sama lain dan berkinerja tinggi. Sehingga menjadi sel surya yang paling efisien dibandingkan jenis sel surya lainnya, sekitar 15% - 20%.
Mahalnya harga kristal silikon murni dan teknologi yang digunakan, menyebabkan mahalnya harga jenis sel surya ini dibandingkan jenis sel surya yang lain di pasaran
Kelemahannya, sel surya jenis ini jika disusun membentuk solar modul (panel surya) akan menyisakan banyak ruangan yang kosong karena sel surya seperti ini umumnya berbentuk segi enam atau bulat, tergantung dari bentuk batangan kristal silikonnya, seperti terlihat pada gambar berikut.
1. Batangan
kristal silikon murni
2. Irisan
kristal silikon yang sangat tipis
3. Sebuah
sel surya monocrystalline yang sudah jadi
4. Sebuah
panel surya monocrystalline yang berisi susunan sel surya monocrystalline.
Nampak area kosong yang tidak tertutup karena bentuk sel surya jenis ini.
2. Polycrystalline
Jenis ini terbuat dari beberapa
batang kristal silikon yang dilebur / dicairkan kemudian dituangkan dalam
cetakan yang berbentuk persegi. Kemurnian kristal silikonnya tidak semurni pada
sel surya monocrystalline, karenanya sel surya yang dihasilkan tidak identik
satu sama lain dan efisiensinya lebih rendah, sekitar 13% - 16% .
Tampilannya nampak seperti ada motif pecahan kaca di dalamnya. Bentuknya yang persegi, jika disusun membentuk panel surya, akan rapat dan tidak akan ada ruangan kosong yang sia-sia seperti susunan pada panel surya monocrystalline di atas. Proses pembuatannya lebih mudah dibanding monocrystalline, karenanya harganya lebih murah. Jenis ini paling banyak dipakai saat ini.
Tampilannya nampak seperti ada motif pecahan kaca di dalamnya. Bentuknya yang persegi, jika disusun membentuk panel surya, akan rapat dan tidak akan ada ruangan kosong yang sia-sia seperti susunan pada panel surya monocrystalline di atas. Proses pembuatannya lebih mudah dibanding monocrystalline, karenanya harganya lebih murah. Jenis ini paling banyak dipakai saat ini.
3. Thin Film Solar Cell (TFSC)
Jenis sel surya ini diproduksi
dengan cara menambahkan satu atau beberapa lapisan material sel surya yang tipis
ke dalam lapisan dasar. Sel surya jenis ini sangat tipis karenanya sangat
ringan dan fleksibel.
Jenis ini dikenal juga dengan nama TFPV (Thin Film Photovoltaic).
Jenis ini dikenal juga dengan nama TFPV (Thin Film Photovoltaic).
Berdasarkan materialnya, sel surya
thin film ini digolongkan menjadi:
3.1. Amorphous Silicon (a-Si) Solar Cells.
Sel surya dengan bahan Amorphous
Silicon ini, awalnya banyak diterapkan pada kalkulator dan jam tangan. Namun
seiring dengan perkembangan teknologi pembuatannya penerapannya menjadi semakin
luas. Dengan teknik produksi yang disebut "stacking" (susun
lapis), dimana beberapa lapis Amorphous Silicon ditumpuk membentuk sel surya,
akan memberikan efisiensi yang lebih baik antara 6% - 8%.
3.2. Cadmium Telluride (CdTe) Solar Cells.
Sel surya jenis ini mengandung bahan
Cadmium Telluride yang memiliki efisiensi lebih tinggi dari sel surya Amorphous
Silicon, yaitu sekitar: 9% - 11%.
3.3. Copper Indium Gallium Selenide (CIGS) Solar Cells.
Dibandingkan kedua jenis sel surya
thin film di atas, CIGS sel surya memiliki efisiensi paling tinggi yaitu
sekitar 10% - 12%. Selalin itu jenis ini tidak mengandung bahan berbahaya
Cadmium seperti pada sel surya CdTe.
Teknologi produksi sel surya thin
film ini masih baru, masih banyak kemungkinan di masa mendatang. Ongkos
produksi yang murah serta bentuknya yang tipis, ringan dan fleksibel
sehingga dapat dilekatkan pada berbagai bentuk permukaan, seperti kaca, dinding
gedung dan genteng rumah dan bahkan tidak menutup kemungkinan kelak dapat
dilekatkan pada bahan seperti baju kaos.

Komentar
Posting Komentar